TEATER
Ø Secara etimologis : Teater adalah gedung
pertunjukan atau auditorium.
Ø Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu
dalam arti sempit dan dalam arti luas.
o Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama
(kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan
orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis).
o Dalam
arti luas, teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang
banyak contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.
Ø Teater bisa juga diartikan sebagai drama,
kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media
: Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang
oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb
Ø Teater (dalam bahasa Inggris: theater atau theatre,
bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron, (θέατρον) dari bahasa Yunani, yang berarti
"tempat untuk menonton"). Teater adalah istilah lain dari drama,
tetapi dalam pengertian yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks
atau naskah, penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dan proses
pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa pembaca, pendengar,
penonton, pengamat, kritikus atau peneliti). Proses penjadian drama ke teater
disebut prose teater atau disingkat berteater.
Ø Jadi kesimpulanya teater adalah sebuah
tontonan yang dipertunjukan di depan orang banyak yang di dalamnya memuat kisah
hidup manusia.
Arti Drama
·
Drama
berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti
berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
·
Drama
adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak.
·
Konflik
dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.
·
Dalam
bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII
dibuat istilah Sandiwara.
Dalam teater memuat beberapa
faktor utama sepetri :
1)
Akting Yang Baik
·
Akting
tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.
·
Dialog
yang baik ialah dialog yang:
o Terdengar (volume baik): Suara atau volume dari
pemain harus keras hingga dapat didengar oleh penonton.
o
Jelas (artikulasi baik): Artikulasi yang
baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan
terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi katakata yang
diucapkan menjadi tumpang tindih.
o Dimengerti (lafal benar): Pelafalan isi
naskah haruslah tepat dan benar supaya isi cerita dapat mudah dimengerti.
o Menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran
yang ditentukan dalam naskah): Pemain dalam memerankan tokoh haruslah sama
dengan kepribadian atau sifat tokoh yang diperankan.
2)
Gerak
yang baik
·
Terlihat (blocking baik): Blocking ialah
penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang
lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang
ditutupi.
·
Jelas
(tidak ragu ragu, meyakinkan)
·
Dimengerti
(sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
·
Menghayati
(sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
3)
Unsur-Unsur Teater
Unsur-unsur dalam teater antara lain:
1.
Naskah atau Skenario
Naskah atau Skenario berisi kisah dengan nama tokoh dan diaolog yang
duicapkan.
2.
Pemain
Pemain merupakan orang yang memerankan tokoh
tertentu. Ada tiga jenis pemain, yaitu peran utama, peran pembantu dan peran
tambahan atau figuran. Dalam film atau sinetron, pemain biasanya disebut Aktris untuk perempuan, dan Aktor untuk laki-laki.
3.
Sutradara
Sutradara adalah orang yang memimpin dan mengatur sebuah teknik
pembuatan atau pementasan teater.
4.
Properti
Properti merupakan sebuah perlengkapan yang diperlukan
dalam pementasan teater. Contohnya kursi, meja, robot, hiasan ruang, dekorasi,
dan lain-lain.
5. Cerita
Isi cerita yang ditampilkan, berupa permasalahan
atau konflik antara pelaku-pelaku itu sendiri. Jalan cerita dapat berbentuk
dialog yang disusun dalam suuatu naskah.
6.Panggung pertunjukan
Panggung mempunyai fungsi untuk memperkuat dan mempermudah gambaran isi
cerita.
7. Penonton
Sukses tidaknya dalam pertunjukkan tergantung juga oleh tanggapan penonton.
Unsur saling menunjang kelangsungan pertunjukkan juga peran dari penonton
sangatlah menentukan.Otomatis untuk mendukung kelangsungan hidup pertunjukkan,
para penonton diwajibkan membayar karcic pertunjukkan, sehingga kehidupan
pemain akan berlangsung terus.
5.Penataan
Seluruh pekerja yang terkait
dengan pementasan teater, antara lain:
a. Tata Rias adalah cara
mendadndani pemain dalam memerankan tokoh teater agar lebih meyakinkan.
b. Tata Busana adalah
pengaturan pakaina pemain agar mendukung keadaan yang menghendaki. Contohnya
pakaian sekolah lain dengan pakaian harian.
c. Tata Lampu adalah
pencahayaan dipanggung.
d. Tata Suara adalah
pengaturan pengeras suara.
Adapun orang-orang yang
terlibat dalam pementasan:
a. Aktor atau aktris sebagai tokoh yang memerankan langsung cerita.
b. Sutradara, yaitu pekerja teater yang
bertugas memimpin actor atau aktris dan pekerja teknis dalam pementasan.
c. Produser yang bertugas
memberikan biaya pementasan
d. Manager
yang mengatur pelaksanaan pementasan.
e. Penata
pentas yaitu yang mengatur penghidupan peran di pentas, pengaturan pentas
seperti pengaturan pentas, dekorasi, Tata lampu (lighting), tata suara, dan
segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pentas
f. Penata
artistic, yaitu yang mengatur secara artistic hal-hal yang banyak berhubungan
dengan pemenyasan secara langsung, seperti tata rias, tata busana, tata musik
dan efek suara.
Jenis Teater
1. Teater Boneka
Pertunjukan boneka telah
dilakukan sejak Zaman Kuno. Sisa peninggalannya ditemukan di makam-makam India
Kuno, Mesir, dan Yunani. Boneka sering dipakai untuk menceritakan legenda atau
kisahkisah religius. Berbagai jenis boneka dimainkan dengan cara yang berbeda.
Boneka tangan dipakai di tangan sementara boneka tongkat digerakkan dengan tongkat
yang dipegang dari bawah. Marionette, atau boneka tali, digerakkan dengan cara
menggerakkan kayu silang tempat tali boneka diikatkan.
Dalam pertunjukan wayang kulit,
wayang dimainkan di belakang layar tipis dan sinar lampu
menciptakan bayangan wayang di layar. Penonton wanita duduk di depan layar,
menonton bayangan tersebut. Penonton pria duduk di belakang layar dan menonton
wayang secara langsung.
Boneka
Bunraku dari Jepang mampu melakukan banyak sekali gerakan sehingga diperlukan
tiga dalang untuk menggerakkannya. Dalang berpakaian hitam dan duduk persis di
depan penonton. Dalang utama mengendalikan kepala dan lengan kanan. Para
pencerita bernyanyi dan melantunkan kisahnya.
2. Drama Musikal
Merupakan pertunjukan teater yang
menggabungkan seni menyanyi, menari, dan akting. Drama musikal mengedepankan
unsur musik, nyanyi, dan gerak daripada dialog para pemainnya. Di panggung
Broadway jenis pertunjukan ini sangat terkenal dan biasa disebut dengan
pertunjukan kabaret. Kemampuan aktor tidak hanya pada penghayatan karakter
melalui baris kalimat yang diucapkan tetapi juga melalui lagu dan gerak tari.
Disebut drama musikal karena memang latar belakangnya adalah karya musik yang
bercerita seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber yang fenomenal. Dari karya
musik bercerita tersebut kemudian dikombinasi dengan gerak tari, alunan lagu,
dan tata pentas.
Selain kabaret, opera dapat
digolongkan dalam drama musikal. Dalam opera dialog para tokoh dinyanyikan
dengan iringan musik orkestra dan lagu yang dinyanyikan disebut seriosa. Di
sinilah letak perbedaan dasar antara Kabaret dan opera. Dalam drama musikal
kabaret, jenis musik dan lagu bisa saja bebas tetapi dalam opera biasanya
adalah musik simponi (orkestra) dan seriosa. Tokoh-tokoh utama opera menyanyi
untuk menceritakan kisah dan perasaan mereka kepada penonton. Biasanya juga
berupa paduan suara. Opera bermula di Italia pada awal tahun 1600-an. Opera dipentaskan
di gedung opera. Di dalam gedung opera, para musisi duduk di area yang disebut
orchestra pit di bawah dan di depan panggung.
3. Teater Gerak
Teater gerak merupakan
pertunjukan teater yang unsur utamanya adalah gerak dan ekspresi wajah serta
tubuh pemainnya. Penggunaan dialog sangat dibatasi atau bahkan dihilangkan
seperti dalam pertunjukan pantomim klasik. Teater gerak, tidak dapat diketahui
dengan pasti kelahirannya tetapi ekspresi bebas seniman teater terutama dalam
hal gerak menemui puncaknya dalam masa commedia del’Arte di Italia. Dalam masa
ini pemain teater dapat bebas bergerak sesuka hati (untuk karakter tertentu)
bahkan lepas dari karakter tokoh dasarnya untuk memancing perhatian penonton.
Dari kebebasan ekspresi gerak inilah gagasan mementaskan pertunjukan dengan
berbasis gerak secara mandiri muncul.
Teater gerak yang paling populer
dan bertahan sampai saat ini adalah pantomim. Sebagai pertunjukan yang sunyi
(karena tidak menggunakan suara), pantomim mencoba mengungkapkan ekspresinya
melalui tingkah polah gerak dan mimik para pemainnya. Makna pesan sebuah lakon
yang hendak disampaikan semua ditampilkan dalam bentuk gerak. Tokoh pantomim
yang terkenal adalah Etienne Decroux dan Marcel Marceau, keduanya dari
Perancis.
4 .Teater Dramatik
Istilah dramatik digunakan untuk
menyebut pertunjukan teater yang berdasar pada dramatika lakon yang
dipentaskan. Dalam teater dramatik, perubahan karakter secara psikologis sangat
diperhatikan dan situasi cerita serta latar belakang kejadian dibuat sedetil
mungkin. Rangkaian cerita dalam teater dramatik mengikuti alur plot dengan
ketat. Mencoba menarik minat dan rasa penonton terhadap situasi cerita yang
disajikan. Menonjolkan laku aksi pemain dan melengkapinya dengan sensasi
sehingga penonton tergugah. Satu peristiwa berkaitan dengan peristiwa lain
hingga membentuk keseluruhan lakon. Karakter yang disajikan di atas pentas
adalah karakter manusia yang sudah jadi, dalam artian tidak ada lagi proses
perkembangan karakter tokoh secara improvisatoris (Richard Fredman, Ian Reade:
1996). Dengan segala konvensi yang ada di dalamnya, teater dramatik mencoba
menyajikan cerita seperti halnya kejadian nyata.
5. Teatrikalisasi Puisi
Pertunjukan teater yang dibuat
berdasarkan karya sastra puisi. Karya puisi yang biasanya hanya dibacakan
dicoba untuk diperankan di atas pentas. Karena bahan dasarnya adalah puisi maka
teatrikalisasi puisi lebih mengedepankan estetika puitik di atas pentas. Gaya
akting para pemain biasanya teatrikal. Tata panggung dan blocking dirancang
sedemikian rupa untuk menegaskan makna puisi yang dimaksud. Teatrikalisasi
puisi memberikan wilayah kreatif bagi sang seniman karena mencoba menerjemahkan
makna puisi ke dalam tampilan laku aksi dan tata artistik di atas pentas.
Dalam sejarah, seni teater tercatat dimulai sejak jauh sebelum tahun 500 SM. Pada awalnya,
Teater hanya dilakoni sebagai sebuah upacara ritual keagamaan ribuan tahun
sebelum Masehi. Beberapa bangsa kuno yang memiliki peradaban maju, seperti
bangsa Maya di Amerika Selatan, Mesir Kuno, Babilonia, Asia Tengah, dan Cina,
menggunakan bentuk teater sebagai salah satu cara untuk berhubungan dengan Yang
Maha Kuasa. Biasanya yang mendalangi seluruh upacara ritual itu adalah dukun
atau pendeta agung.
Sejarah mencatat, seni teater berfungsi
hanya sebagai upacara ritual (keagamaan), melainkan berfungsi pula sebagai
kesenian atau hiburan. Peristiwa teater yang mensyaratkan kebersamaan, saat,
dan tempat, tetaplah menjadi persyaratan utama kehadiran teater sejak ribuan tahun
sebelum Masehi, sehingga pada zaman Yunani teater pun selalu hadir dengan
persyaratan yang serupa. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan
bahwa sesuatu dapat disebut teater jika ada keutuhan tiga kekuatan, berupa:
orang teater, tempat, dan komunitas (penonton). Tiga kekuatan inilah yang
bertemu dan melahirkan sinergi dan melahirkan “peristiwa teater”.
Dalam sejarah, seni teater pada zaman
Yunani dikenal sebagai zaman yang melembagakan konvensi berteater yang masih
memiliki pengaruh sampai sekarang. Mantra-mantra yang mulanya hanya lisan dan
tak tertulis, berlangsung menjadi naskah tertulis, sementara doa-doa berubah
bentuknya menjadi kisah atau lakon. Yunani melahirkan tokoh penelitian naskah
drama, antara lain Aeschylus (525-456 SM), Sophocles (496-406 SM), Euripides
(480-406 SM), dan Aristophanes (sekitar 400 SM). Mereka adalah bapak moyang
para peneliti naskah drama.
Pada perkembangan sejarah seni teater
berikutnya, upacara keagamaan lebih menonjolkan penceritaan. Sekelompok manusia
bergerak mengarak seekor kambing yang sudah didandani dengan berbagai
perhiasan. Mereka menggiring persembahan itu mengelilingi pasar atau jalan raya
diiringi bunyi tambur, seruling, dan bunyi-bunyian lain. Iring-iringan itu
memperlambat jalannya, apabila penonton bertambah atau berhenti untuk memberi
kesempatan kepada narator (pencerita) yang mengisahkan suatu peristiwa. Narator
mengisahkan salah satu dewa kepada penonton yang berderet-deret di pinggir
jalan atau berdiri mengerumuninya.
PERKEMBANGAN TEATER DI INDONESIA
Tradisi teater sudah ada sejak dulu dalam masyarakat
Indonesia. Hal ini terbukti dengan sudah adanya teater tradisional di seluruh
wilayah tanah air. Fungsi teater pada saat itu adalah sebagai :
1. memanggil kekuatan gaib
2. menjemput roh pelindung untuk hadir di tempat pertunjukan
3. memanggil roh baik untuk mengusir roh jahat
4. peringatan nenek moyang dengan mempertontonkan
kegagahan/kepahlawanan
5. pelengkap upacara
Teater Rakyat (tradisional)
Teater tradisional atau Teater Rakyat
lahir di tengah-tengah rakyat dan masih menunjukkan kaitan dengan upacara adat
dan keagamaan. Artinya pertunjukan hanya dilaksanakan dalam kaitan dengan
upacara tertentu, seperti khitanan, perkawinan, selamatan dan sebagainya. Yang
menanggung semua pembiayaan adalah yang punya hajat dan dapat ditonton gratis
oleh undangan dan masyarakat. Tempat pertunjukan dapat dimana saja; halaman
rumah, kebun, balai desa, tanah lapang dan seterusnya. Contoh-contoh teater
rakyat adalah sebagai berikut :
1) Makyong dan Mendu di daerah Riau dan Kalimantan Barat
2) Randai dan Bakaba di Sumatera Barat
3) Mamanda dan Bapandung di Kalimantan Selatan
4) Arja, Topeng Prembon, dan Cepung di Bali
5) Ubrug, Banjet, Longser, Topeng Cirebon, Tarling, dan Ketuk
Tilu di Jawa Barat
6) Ketoprak, Srandul, Jemblung, Gatoloco di Jawa Tengah
7) Kentrung, Ludruk, Ketoprak, Topeng Dalang, Reyog, dan
Jemblung di Jawa Timur
8) Cekepung di Lombok
9) Dermuluk di Sumatera Selatan dan Sinlirik di Sulawesi
Selatan
10) Lenong, Blantek, dan Topeng Betawi di Jakarta
11) Randai di Sumatera Barat
Teater Klasik (keraton)
Sifat teater ini sudah mapan, artinya
segala sesuatunya sudah teratur, dengan cerita, pelaku yang terlatih, gedung
pertunjukan yang memadai dan tidak lagi menyatu dengan kehidupan rakyat
(penontonnya). Lahirnya jenis teater ini dari pusat kerajaan. Sifat feodalistik
tampak dalam jenis teater ini. Para seniman dihidupi oleh raja dengan menjadi
pegawai kerajaan yang mendapat tugas religius dan tugas mengangkat kebesaran
atau kemuliaan sang raja. Contohnya Wayang Kulit, Wayang Orang, Wayang Golek,
dan Langendriya. Ceritanya statis, tetapi memiliki daya tarik berkat
kreatifitas dalang atau pelaku teater tersebut dalam menghidupkan lakon.
Teater Modern
Teater modern merupakan teater yang
bersumber dari teater tradisional, tetapi gaya penyajiannya sudah dipengaruhi
oleh teater Barat. Jenis teater seperti Komedi Stambul, Sandiwara Dardanela,
Sandiwara Srimulat, dan sebagainya merupakan contoh teater modern. Dalam
Srimulat sebagai contoh, pola ceritanya sama dengan Ludruk atau Ketoprak, jenis
ceritanya diambil dari dunia modern. Musik, dekor, dan properti lain
menggunakan teknik Barat.
Dari contoh-contoh di atas, nyatalah bahwa teater sudah membudaya dalam
kehidupan bangsa kita. Dalam teater, penonton tidak hanya disuguhi pengetahuan
tentang baik/buruk, dan indah/jelek, tetapi ikut menyikapi dan melihat action.
Kalau mungkin, jika siswa-siswa berteater, mereka melaksanakan tiga matra
tujuan mengajar menurut Bloom, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sebab
itulah penggunaan teater dalam media pendidikan semakin populer.
Menurut Sumardjo periodisasi teater modern adalah :
1) Masa Perintisan (1885-1925)
- Teater Bangsawan (1885-1902)
- Teater Stamboel (1891-1906)
- Teater Opera (1906-1925)
2) Masa Kebangkitan (1925-1941)
- Teater Miss Riboet’s Oreon (1925)
- Teater Dardanela opera (1926-1934)
- Awal teater modern di Indonesia (1926)
3) Masa perkembangan (1942-1970)
- Teater zaman Jepang
- Teater tahun 1950-an
- Teater tahun 1960-an
4) Masa Teater mutakhir (1970-1980-an)
Akhir-akhir ini banyak
keluhan karena bengkrutnya group-group teater tradisional. Di zaman modern ini
para pengelola group kesenian dituntut kemampuan yang lebih canggih, tidak
hanya kemampuan dalam bidang kesenian atau penyutradaraan. Kemampuan manajemen
perusahaan, kemampuan pemasaran, kemampuan psikologi massa untuk membaca selera
penonton sangat diperlukan. Seniman-seniman teater tradisional kini juga sudah
semakin sedikit jumlahnya karena ditinggalkan oleh mereka yang senior.
Nama-nama besar seperti Cokro Jiyo, Markuat, Atmonadi, Basiyo, Narto Sabdo, dan
sebagainya kini telah tiada. Siswo Budoyo dengan Siswondo dan Jusuf Agil juga
mengalami kehancuran karena dua tokoh itu telah tiada.
Kini kita berpaling ke
drama-drama modern yang menggunakan naskah. Kiranya sukses drama tradisional
dalam kemandiriannya tidak dapat diwarisi oleh grup-grup drama modern. Walaupun
begitu kehadiran mereka dalam khasanah sastra Indonesia merupakan fenomena yang
tidak dapat dilupakan. Kita kenal nama-nama besar seperti Bengkel Teater,
Teater Populer, Teater Starka, Teater Alam, dan sebagainya. Profesionalisme
dalam berkesenian belum cukup untuk menjawab tantangan jaman. Dibutuhkan
pengelola keuangan dan organisator yang mampu memanjangkan nafas hidup
group-group teater modern. Paling tidak teater modern membutuhkan impresario
atau tokoh semacam itu.
Di berbagai kota, banyak
dramawan-dramawan muda yang masih memiliki idealisme tinggi meneruskan kegiatan
berteater meskipun secara finansial tidak menjajikan perbaikan nasib. Di
Surakarta, kehidupan Taman Budaya Surakarta (TBS) dimotori oleh
dramawan-dramawan muda, seperti Hanindrawan, Sosiawan Leak, dan
dramawan-dramawan muda dari 9 fakultas di UNS, serta dari perguruan tinggi lain
di Surakarta.
Teater-teater sekolah marak
tumbuh. Begitu juga teater di perguruan tinggi. Setiap fakultas biasanya
memiliki group teater karena ditunjang oleh dana kemahasiswaan yang memadai.
Hal ini menyebabkan lahirnya dramawan-dramawan muda yang penuh idealisme dan
banyak berpikir pentas yang disertai dengan diskusi-diskusi tentang drama dan
teater. Pertanyaannya, seberapa besar peran kita (teater kampus) dalam dunia
perteateran Indonesia?
Berikut ini
adalah sejarah
perkembangan teater di Indonesia
1. Teater Tradisional
Kasim
Achmad dalam bukunya Mengenal Teater
Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan, sejarah teater tradisional di Indonesia
dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Pada zaman itu, ada tanda-tanda bahwa
unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual.
Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun
upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada saat itu,
yang disebut “teater”, sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater, dan belum
merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Setelah melepaskan diri dari
kaitan upacara, unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan
yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya.
Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di
Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini
disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda,
tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana
teater tradisional lahir.
Macammacam teater tradisional Indonesia adalah :wayang
kulit, wayang wong, ludruk , lenong, randai, drama gong, arja, ubrug, ketoprak,
dan sebagainya.
2. Teater Transisi (Modern)
Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater
pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh
budaya lain. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional
dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, dinamakan
teater bangsawan. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai
ditulis, meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis
besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan
dekorasi. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. Pada periode
transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Selain
pengaruh dari teater bangsawan, teater tradisional berkenalan juga dengan
teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar
tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali
berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian
Jakarta).
Perkenalan
masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu
mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891, yang pementasannya
secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa), yang pada
saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. Dilihat dari segi sastra,
mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang
ditulis oleh orang Belanda F.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio
Retno, pada tahun 1901. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina
Adinda, Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913), dan lain-lainnya, yang
menggunakan bahasa Melayu Rendah.
Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok
sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang
didirikan Willy Klimanoff alias A. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Kemudian
lahirlah kelompok sandiwara lain, seperti Opera Stambul, Komidi Bangsawan,
Indra Bangsawan, Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja
Timoer, dan lain sebagainya. Pada masa teater transisi belum muncul istilah
teater. Yang ada adalah sandiwara. Karenanya rombongan teater pada masa itu
menggunakan nama sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama.
Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara
masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah
Zaman Kemerdekaan.
3. Teater Indonesia tahun 1920-an
Teater pada masa
kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks
sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut
kesusastraan. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama
karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Drama-drama
Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu
karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan
sekitar tahun 1930-an. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa
Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak
adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya
Rustam Efendi (1926). Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi
pelopor semangat kebangsaan. Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh utama
Bujangga, yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana.
Penulis lakon lainnya, yaitu Sanusi
Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad
Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). Armiijn Pane mengolah roman Swasta
Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama.
Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere, dengan judul Si Bachil. Imam
Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Dr. Satiman
Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Mr. Singgih menulis drama
berjudul Hantu. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan, persoalan,
dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka.
Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia, menulis dengan menggunakan
bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bahkan Presiden
pertama Indonesia, Ir Soekarno, pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai
teater di Bengkulu (saat di pengasingan). Beberapa lakon yang ditulisnya antara
lain, Rainbow, Krukut Bikutbi, dan Dr. Setan.
4. Teater Indonesia tahun 1940-an
Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu
penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter
Jepang. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan
pemerintahan totaliter Jepang. Namun demikian, dalam situasi yang sulit dan
gawat serupa itu, dua orang tokoh, yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat
berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan
menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai
upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia.
Maka pada tanggal 6 oktober 1942, di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat
Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut, Sanusi Pane (Ketua), Mr.
Sumanang (Sekretaris), dan sebagai anggota antara lain, Armijn Pane, Sutan
Takdir Alisjabana, dan Kama Jaya. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud
menciptakan kesenian Indonesia baru, di antaranya dengan jalan memperbaiki dan
menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru.
Langkah-langkah
yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan
cita-cita kemajuan kesenian Indonesia, ternyata mengalami hambatan yang
datangnya dari barisan propaganda Jepang, yaitu Sendenbu yang membentuk badan
perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’, yang dipimpin oleh orang Jepang S. Oya.
Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat
Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra
Asia, Ratu Asia, Pendekar Asia, yang kesemuanya merupakan corong propaganda
Jepang. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang
mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. Dalam kurun waktu
ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah
penjajahan Jepang anti budaya Barat. Rombongan sandiwara keliling komersial,
seperti misalnya Bintang Surabaya, Dewi Mada, Mis Ribut, Mis Tjitjih, Tjahaya
Asia, Warna Sari, Mata Hari, Pancawarna, dan lain-lain kembali berkembang
dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia, Jawa, maupun Sunda. Rombongan
sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan, antara lain
Astaman, Tan Ceng Bok (Si Item), Ali Yugo, Fifi Young, Dahlia, dan sebagainya.
Pengarang Nyoo Cheong Seng, yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour
D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara
lain, Kris Bali, Bengawan Solo, Air Mata Ibu (sudah difilmkan), Sija, R.A
Murdiati, dan Merah Delima. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan
pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella,
Komedi Bangsawan, dan Bolero, yaitu di antara satu dan lain babak diselingi
oleh tarian-tarian, nyanyian, dan lawak. Secara istimewa selingannya kemudian
ditambah dengan mode show, dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang
cantik-cantik .
Menyusul
kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada, dengan bintang-bintang eks
Bolero, yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok, yang sekaligus sebagai
pemimpinnya. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam
pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa
rombongan sandiwara Bolero. Cerita yang dipentaskan antara lain, Ida Ayu, Ni
Parini, dan Rencong Aceh.
Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola
pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing
bagi para pengusaha Indonesia. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar
tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Keistimewaan rombongan
sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh
Garsia, seorang keturunan Filipina, yang terkenal sebagi Raja Drum. Garsia
menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari
separuh panggung. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke
kiri sehingga menarik minat penonton. ceritacerita yang dipentaskan antara
lain, Panggilan Tanah Air, Bulan Punama, Kusumahadi, Kembang Kaca, Dewi Rani,
dan lain sebagainya.
Rombongan
sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih, yaitu
rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. Dalam perjalanannya, rombongan
sandiwara ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan
berganti nama menjadi rombongan sandiwara Tjahaya Asia yang mementaskan
ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. Anjar Asmara, Ratna
Asmara, dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943, mendirikan rombongan sandiwara
angkatan muda Matahari. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan
Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan
baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Bentuk
penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur
hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain sehingga
akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera
penonton. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain, Musim Bunga di
Slabintana, Nusa Penida, Pancaroba, Si Bongkok, Guna-guna, dan Jauh di Mata.
Kama Jaya menulis lakon antara lain, Solo di Waktu Malam, Kupu-kupu, Sang Pek
Engtay, Potong Padi. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu,
Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida.
Pertumbuhan
sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. Jepang menugaskan
Dr. Huyung (Hei Natsu Eitaroo), ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai
berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua
rombongan sandiwara profesional. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus
dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan
Jepang, Kotot Sukardi menulis lakon, Amat Heiho, Pecah Sebagai Ratna, Bende
Mataram, Benteng Ngawi. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu, lakon Nora karya
Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh
Armijn Pane. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Oleh karena ada
sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. Para pemain
tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam
naskah. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam
setiap pementasan sandiwara.
Menjelang
akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra
yang berarti, yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail, dan D.
Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto, Rosihan Anwar, dan Abu Hanifah
dengan para anggota cendekiawan muda, nasionalis dan para profesional (dokter,
apoteker, dan lain-lain). Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme,
humanisme dan agama. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater
nasional dilakukan. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk
ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju
humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu
pengetahuan. Bahwa teori teater perlu dipelajari secara serius. Kelak,
Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional
di Indonesia.
5. Teater Indonesia Tahun 1950-an
Setelah
tokohg kemerdekaan, peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan
dalam tokohg kemerdekaan, juga sebaliknya, mereka merenungkan peristiwa tokohg
kemerdekaan, kekecewaan, penderitaan, keberanian dan nilai kemanusiaan, pengkhianatan,
kemunafikan, kepahlawanan dan tindakan pengecut, keiklasan sendiri dan
pengorbanan, dan lain-lain. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam lakon
Fajar Sidik (Emil Sanossa, 1955), Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja, 1951),
Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang, 1954), Titik-titik Hitam (Nasyah Jamin,
1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin, 1959). Sementara ada lakon yang
bercerita tentang kekecewaan paska tokohg, seperti korupsi, oportunisme
politis, erosi ideologi, kemiskinan, Islam dan Komunisme, melalaikan
penderitaan korban tokohg, dan lain-lain. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon
seperti Awal dan Mira (1952), Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang
Sontani, bahkan lakon adaptasi, Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja
(1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali
(1956), berdasarkan Justice karya John Galsworthy. Utuy Tatang Sontani
dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di
Indonesia dengan lakon-lakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi
sebagai ciri kehidupan moderen. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal
di Indonesia, melainkan sampai ke Malaysia.
Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi
pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom
Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. Kedua seniman teater Barat dengan idiom
realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional
Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. ATNI
menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan
dari Barat, seperti karyakarya Moliere, Gogol, dan Chekov. Sedangkan metode
pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian.
Menurut Brandon (1997), ATNI inilah
akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. Alumni Akademi Teater
Nasional yang menjadi aktor dan sutradara
antara lain, Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Tatiek Malyati, Pramana
Padmadarmaya, Galib Husein, dan Kasim Achmad. Di Yogyakarta tahun 1955
Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia
(ASDRAFI). Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta.
6. Teater Indonesia Tahun 1970-an
Jim Adi
Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen
dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan, tari topeng
Cirebon, longser, dan dagelan dengan teater
Barat. Pada akhir 1950-an JIm
Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme
konvensional. Karya penyutradaraanya, yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Sontani) dan
Paman Vanya (Anton Chekhov). Bermain dengan akting realistis dalam lakon The
Glass Menagerie (Tennesse William, 1962), The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz
). Pada tahun 1960, Jim Lim menyutradari Bung Besar, (Misbach Yusa Biran)
dengan gaya longser, teater rakyat Sunda.
Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan
musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini
KM., 1961). Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal
(1963/1964). Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada
lakon Caligula (Albert Camus, 1945), Badak-badak (Ionesco, 1960), dan Biduanita
Botak (Ionesco, 1950). Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di
Paris. Suyatna Anirun, salah satu aktor dan juga teman Jim Lim, melanjutkan apa
yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan
teater etnis.
Peristiwa
penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional
terjadi pada tahun 1967, Ketika Rendra kembali ke Indonesia. Rendra mendirikan
Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek
improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam
drama-drama realisme. Akan tetapi, pertunjukan bermula dari improvisasi dan
eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang
diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin).
Pertunjukannya misalnya, Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967,1968).
Didirikannya
pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin, gubernur DKI jakarta
tahun1970, menjadi pemicu meningkatnya aktivitas, dan kreativitas berteater
tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di kota besar seperti Bandung, Surabaya,
Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Ujung Pandang, dan lain-lain. Taman
Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh
17 (tujuh belas) pengarang sandiwara, menyelenggarakan festival pertunjukan
secara teratur, juga lokakarya dan diskusi teater secara umum atau khusus.
Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht, Artaud dan Grotowsky
juga diperbincangkan.
Di
Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht)
dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat,
Akhudiat, Luthfi Rahman, Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya, Teater Lektur,
Teater Melarat Malang). Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Mohammad
Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. Di Padang ada Wisran Hadi
dengan teater Padang. Di Makasar, Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan
Teater Makasar. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan
Burhan Piliang.
Tokoh-tokoh
teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah, Teguh Karya (Teater Populer),
D. Djajakusuma, Wahyu Sihombing, Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga),
Ikranegara (Teater Saja), Danarto (Teater Tanpa Penonton), Adi Kurdi (Teater
Hitam Putih). Arifin C. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya
irama dari
blocking, musik, vokal, tata cahaya, kostum dan verbalisme
naskah. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan kostum
yang meriah dan vokal keras. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi.
Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan
aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. N. Riantiarno (Teater Koma)
dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor.
7. Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an
Tahun
1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan
lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Ditiadakannya kehidupan politik
kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974.
Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Dalam latar situasi
seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk
festival teater. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya
disebut Festival Teater Remaja). Beberapa jenis festival di Yogyakarta, di
antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen
Penerangan Republik Indonesia (1983). Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota
yang digagas oleh Luthfi Rahman, Kholiq Dimyati dan Mukid F.
Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di
berbagai kota di Indonesia. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti, Teater Jeprik,
Teater Tikar, Teater Shima, dan Teater Gandrik. Teater Gandrik menonjol dengan
warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun
berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Lakon yang
dipentaskan antra lain, Pasar Seret, Meh, Kontrang- kantring, Dhemit, Upeti,
Sinden, dan Orde Tabung.
Di Solo (Surakarta) muncul Teater
Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan
kehidupan rakyat pinggiran. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Di samping Gapit,
di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Di Bandung muncul Teater Bel, Teater Republik,
dan Teater Payung Hitam. Di Tegal lahir teater RSPD. Festival Drama Lima Kota
Surabaya memunculkan Teater Pavita, Teater Ragil, Teater Api, Teater Rajawali,
Teater Institut, Teater Tobong, Teater Nol, Sanggar Suroboyo. Di Semarang
muncul Teater Lingkar. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul
Teater Potlot.
Dari
Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti, Teater Sae yang berbeda
sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara
pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Ada pula Teater Luka,
Teater Kubur, Teater Bandar Jakarta, Teater Kanvas, Teater Tetas selain teater
Studio Oncor, dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal
Malna,1999).
Aktivitas teater terjadi juga di
kampus-kampus perguruan tinggi. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah
teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Jurusan
teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. ISI
menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk
bidang seni teater pada saat itu. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan
dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik.
8. Teater Kontemporer Indonesia
Teater
Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Sejak
munculnya eksponen 70 dalam seni teater, kemungkinan ekspresi artistik
dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Gerakan ini terus
berkembang sejak tahun 80- an sampai saat ini. Konsep dan gaya baru saling
bermunculan. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater
eksperimental terus juga tumbuh. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam
seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur
pertunjukan yang lain. Dengan demikian, wilayah jelajah ekspresi menjadi
semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak.
10 Seni teater Tradisional Indonesia
1. Wayang
Wayang
dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi.
Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek
moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau
gambar.
Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama
berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO
pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam
bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of
Oral and Intangible Heritage of Humanity).
G.A.J. Hazeu mengatakan bahwa wayang dalam bahasa/kata
Jawa berarti: bayangan , dalam bahasa melayu artinya: bayang-bayang, yang
artinya bayangan, samar-samar, menerawang. Bahasa Bikol menurut keterangan
Profesor Kern, bayang, barang atau menerawang. Semua itu berasal dari akar kata
"yang" yang berganti-ganti suara yung, yong, seperti dalam kata:
laying (nglayang)=yang, dhoyong=yong, reyong=yong, reyong-reyong, atau
reyang-reyong yang berarti selalu berpindah tempat sambil membawa sesuatu,
poyang-payingen, ruwet dari kata asal: poyang, akar kata yang. Menurut hasil
perbandingan dari arti kata yang akar katanya berasal dari yang dan sebagainya
tadi, maka jelas bahwa arti dari akar kata: yang, yung, yong ialah bergerak
berkali-kali, tidak tetap, melayang.
2. Makyong
Makyong
adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih
digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional.
Makyong dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha Thai dan Hindu-Jawa. Nama makyong
berasal dari mak hyang, nama lain untuk dewi sri, dewi padi.
Makyong adalah teater tradisional yang berasal dari Pulau
Bintan, Riau. Makyong berasal dari kesenian istana sekitar abad ke-19 sampai
tahun 1930-an. Makyong dilakukan pada siang hari atau malam hari. Lama
pementasan ± tiga jam
3. Drama Gong
Drama Gong
adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang
diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional
Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Dalam banyak hal Drama Gong
merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater
tradisional (Bali). Karena dominasi dan pengaruh kesenian klasik atau
tradisional Bali masih begitu kuat, maka semula Drama Gong disebut "drama
klasik". Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam
pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi
oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh
Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar).
Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan
puncak kejayaannya adalah tahun1970. Namun semenjak pertengahan tahun 1980
kesenian ini mulai menurun popularitasnya, sekarang ini ada sekitar 6 buah
sekaa Drama Gong yang masih aktif.
4. Randai
Randai
adalah kesenian (teater) khas masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat yang
dimainkan oleh beberapa orang (berkelompok atau beregu). Randai dapat diartikan
sebagai “bersenang-senang sambil membentuk lingkaran” karena memang pemainnya
berdiri dalam sebuah lingkaran besar bergaris tengah yang panjangnya lima
sampai delapan meter. Cerita dalam randai, selalu mengangkat cerita rakyat
Minangkabau, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan
cerita rakyat lainnya. Konon kabarnya, randai pertama kali dimainkan oleh
masyarakat Pariangan, Padang Panjang, ketika mereka berhasil menangkaprusa yang
keluar dari laut.
Kesenian randai sudah dipentaskan di beberapa tempat di
Indonesia dan bahkan dunia. Bahkan randai dalam versi bahasa Inggris sudah
pernah dipentaskan oleh sekelompok mahasiswa di University of Hawaii, Amerika
Serikat.
Kesenian randai yang kaya dengan nilai etika dan estetika
adat Minangkabau ini, merupakan hasil penggabungan dari beberapa macam seni,
seperti: drama (teater), seni musik, tari dan pencak silat.
5. Mamanda
Mamanda
adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan
Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan
Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton.
Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar
lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.
Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman
ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian
Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana
Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua,
Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).
Disinyalir
istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir,
Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang
Raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata "mama" (mamarina)
yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi
mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang
dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.
Asal
muasal Mamanda adalah kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek
dari Malaka tahun 1897. Dulunya di Kalimantan Selatan bernama Komedi Indra
Bangsawan. Persinggungan kesenian lokal di Banjar dengan Komedi Indra Bangsawan
melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut sebagai Ba Abdoel Moeloek atau
lebih tenar dengan Badamuluk. Kesenian ini hingga saat ini lebih dikenal dengan
sebutan mamanda.
Bermula dari kedatangan rombongan bangsawan Malaka (1897
M) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa di Tanah Banjar,
kesenian ini dipopulerkan dan disambut hangat oleh masyarakat Banjar. Setelah
beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama
"Mamanda".
Seni drama tradisional Mamanda ini sangat populer di
kalangan masyarakat kalimantan pada umumnya
6. Longser
Longser
merupakan salah satu bentukteater nasional
masyarakat sunda, Jawa barat.
Longser berasal dari akronim kata melong (melihat dengan kekaguman) dan saredet
(tergugah) yang artinya barang siapa yang melihat pertunjukan longser, maka
hatinya akan tergugah. Longser yang penekanannya pada tarian disebut ogel atau
doger. Sebelum longser lahir dan berkembang, terdapat bentuk teater tradisional
yang disebut lengger.
Busana yang dipakai untuk kesenian ini sederhana tapi
mencolok dari segi warnanya terutama busana yang dipakai oleh ronggeng.
Biasanya seorang ronggeng memakai kebaya dan kain samping batik. Sementara,
untuk lelaki memakai baju kampret dengan celana sontog dan ikat kepala.
7. Ketoprak
Ketoprak
merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan
daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Di
daerah-daerah tersebut ketoprak merupakan kesenian rakyat yang menyatu dalam
kehidupan mereka dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya seperti srandul dan
emprak.
Kata ‘kethoprak’ berasal dari nama alat yaitu Tiprak. Kata
Tiprak ini bermula dari prak. Karena bunyi tiprak adalah prak, prak, prak.
Serat Pustaka Raja Purwa jilid II tulisan pujangga R. Ng. Rangga Warsita dalam
bukunya Kolfbunning tahun 1923 menyatakan “… Tetabuhan ingkang nama kethoprak
tegesipun kothekan”
ini berarti kethoprak berasal dari bunyi prak, walaupun
awalnya bermula dari alat bernama tiprak.
Kethoprak
juga berasal dari kothekan atau gejogan. Alat bunyi-bunyian yang berupa lesung
oleh pencipta kethoprak ditambah kendang dan seruling.
Ketoprak merupakan salah satu bentuk teater
rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang
digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa
Jawa, namun harus diperhitungkan masalah unggahungguh bahasa. Dalam bahasa Jawa
terdapat tingkat-tingkat bahasa yang digunakan, yaitu:
- Bahasa Jawa biasa (sehari-hari)
- Bahasa Jawa kromo (untuk yang lebih tinggi)
- Bahasa Jawa kromo inggil (yaitu untuk tingkat yang
tertinggi)
Menggunakan bahasa dalam ketoprak, yang diperhatikan bukan
saja penggunaan tingkat-tingkat bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa. Karena
itu muncul yang disebut bahasa ketoprak, bahasa Jawa dengan bahasa yang halus
dan spesifik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kethoprak seni
pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik
struktur lakon, dialog, busana rias, maupun bunyi-bunyian musik tradisional
yang dipertunjukan oleh rakyat.
8. Ludruk
Ludruk
merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni
panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Ludruk merupakan
suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di
gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat
sehari-hari (cerita wong cilik), cerita perjuangan dan lain sebagainya yang
diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.
Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat
penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada
bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan
logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah
diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum,
dll).
9. Lenong
"Lenong"
adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat Betawi, Jakarta. Lenong
berasal dari nama salah seorang Saudagar China yang bernama Lien Ong. Konon,
dahulu Lien Ong lah yang sering memanggil dan menggelar pertunjukan teater yang
kini disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta
keluarganya. Pada zaman dahulu (zaman penjajahan), lenong biasa dimainkan oleh
masyarakat sebagai bentuk apresiasi penentangan terhadap tirani penjajah.
Kesenian
teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas
kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul"
yang sudah ada saat itu. Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi,
menyebutkan bahwa lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang
kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak tahun 1920-an.
Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen
dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung.
Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari
penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela
Terdapat
dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari
kata denes dalam dialek Betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), aktor dan
aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan
atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang
dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang
kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari
bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa
Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan
sehari-hari.
10. Ubrug
"Ubrug"
di Pandeglang dikenal sebagai kesenian tradisional rakyat yang semakin hari
semakin dilupakan oleh penggemarnya. Istilah ‘ubrug’ berasal dari bahasa Sunda
‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi.
Kesenian ubrug termasuk teater rakyat yang memadukan unsur lakon, musik,
tari, dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komedi. Bahasa yang
digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan
Melayu (Betawi). Alat musik yang biasa dimainkan dalam pemenetasan adalah
gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk.
Selain
berkembang di provinsi Banten, kesenian Ubrug pun berkembang sampai ke Lampung
dan Sumatera Selatan yang tentunya dipentaskan menggunakan bahasa daerah
masing-masing.
Teater Ubrug pada awalnya dipentaskan di
halaman yang cukup luas dengan tenda daun kelapa atau rubia.
Untuk
penerangan digunakan lampu blancong, yaitu lampu minyak tanah yang bersumbu dua
buah dan cukup besar yang diletakkan di tengah arena. Lampu blancong ini sama
dengan oncor dalam ketuk tilu, sama dengan lampu gembrong atau lampu petromak.
Sekitar tahun 1955, ubrug mulai memakai panggung atau ruangan, baik yang
tertutup ataupun terbuka di mana para penonton dapat menyaksikannya dari segala
arah.
Terimakasi telah membaca, semoga
bermanfaat.
SALAM
BUDAYA
Blog M.rizky.D.S